BERFIKIR, BERKATA DAN BERTINDAK BENAR

berfikirlah serumit mungkin, berbuatlah semudah mungkin dan hiduplah sesederhana mungkin

Koperasi Nusantara Sinergi



Koperasi Nusantara Sinergi adalah Induk Koperasi Nasional yang bersifat kerakyatan dan sesuai kultur nusantara. Koperasi ini mendukung program kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam bidang ekonomi.
  Dengan wadah koperasi ini, diharapkan seluruh elemen ekonomi bisa bergabung, bersatu, berjamaah mewujudkan lembaga ekonomi yang kuat dan mandiri menuju bangsa yang makmur sejahtera.
  Koperasi mempunyai nilai kebersamaah, persaudaraan, kemudahan, gotong royong dan profesional.


www.nusantarasinergi.com

Dana Gotong Royong Nusantara Capital

Dana Gotong Royong Nusantara Capital

   Sebagai wujud dukungan gerakan ekonomi kerakyatan Nusantara Capital, kami mengharapkan dana gotong royong seluruh Rakyat Indonesia dengan memberikan donasi sebesar Rp. 100.000,-.


  Dana yang terkumpul akan disalurkan ke Koperasi Nusantara Sinergi sebagai andil permodalan. Hasil usaha tersebut akan digunakan untuk gerakan sinergi ekonomi nasional dan mewujudkan lembaga keuangan mandiri dan kuat.

 Rekening donasi :

 1. Bank BRI
     a.n Fariz Waluyo Dani Saputra
     No. Rek. 303201028102539


  2. Bank BCA
     a.n Fariz Waluyo Dani Saputra
     No. Rek. 2390485134

Tambahkan angka 999 pada digit terakhir untuk memudahkan administrasi.
            Misalnya Rp. 100.999,-

Setelah transfer silahkan konfirmasi ke :
            Fariz    : 085600616629
            email    : grupnusantaracapital@gmail.com 



info lengkap di :

www.nusantaracapital.id

Oh.. Pak Dahlan

Oh, Pak Dahlan...
Oleh: Afni Zulkifli

‘’Kalian jangan pernah kaget. Jika suatu hari mereka berhasil mendapatkanku, maka aku akan hadapi dengan senyum’’. Graha Pena Jawa Pos, Jakarta, Desember 2014.

Saat itu saya satu dari belasan Pemimpin Redaksi JPG yang terpilih mengikuti kelas jurnalistiknya.

***
27 Oktober 2016. Founding father Jawa Pos itu resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Saya menerima banyak sekali telepon dan pertanyaan lewat WhatsApp dan BBM.

Hampir semuanya menanyakan kebenaran dan rasa keprihatinan. Mereka kaget. Saya tidak.

Karena sejak ia mengatakan itu, saya sudah menyiapkan hati. Ia adalah Guru yang menjadi salah satu sumber idealisme saya untuk Indonesia.

Dahlan Iskan. Bahkan tidur pun pundi-pundi rupiah akan tetap mengalir ke rekeningnya. Ada hampir 300 perusahaan di bawah bendera Jawa Pos Group yang dipimpinnya.

Namun kemana-mana, ia hanya suka dengan kemeja putih, celana kain dan sepatu ketsnya. Seorang mantan wartawan Tempo yang tulisannya begitu tajam.

Seorang Ayah bagi puluhan ribu karyawan media Group di seluruh penjuru Indonesia.

Ayah yang selalu menyiramkan ‘minyak pada api-api jurnalis muda’, untuk menulis jujur dan selalu memihak pada kebenaran rakyat.
Dahlan Iskan. Berpuluh tahun lalu, menghidupkan kembali Jawa Pos dari mati suri.

Membangunnya dari perusahaan berdarah-darah, hingga mampu bangkit dan menjadi yang terbesar di Negeri ini. Dari Aceh sampai Merauke.

Saya pernah bertanya,’’Mengapa kita tidak menguasai Jakarta atau membuat Televisi seperti yang dibuat mereka?’’.

Kira-kira jawabannya begini ‘’Jawa Pos adalah koran rakyat. Biarkan ia masuk ke kampung-kampung mencerahkan rakyat. Kita tidak perlu menguasai Jakarta, karena kita ingin dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia, bukan menguasai opini para penguasa di Ibukota,".

Dahlan Iskan. Saat menjadi Menteri, menyerahkan seluruh gajinya untuk memulangkan salah satu putra terbaik bangsa.

‘’Sang Putra Petir’’ yang cerdas itu, sudah lama tinggal Jepang, hanya Dahlan yang bisa memanggilnya pulang.

Mereka berkolaborasi membuat mobil listrik, yang semua biaya ditanggung oleh kantong pribadinya.

Ia mengalirkan optimisme bagi Tanah Air ini, membuktikan bahwa Indonesia pasti bisa dan MEMANG BISA.

Sayangnya, hampir semua yang terlibat dalam proses mimpi mobil listrik itu menjadi mobil Nasional, dikriminalisasi. Mimpi itu sudah hancur, jauh sebelum kita semua bangun tidur.

Dahlan Iskan. Suatu pagi saya pernah menemuinya di sekitaran Monas, Jakarta. Waktu itu ia masih seorang Menteri. Saya sampaikan permohonan padanya.
‘’Pak, berkenankah menerima Bupati saya. Ada persoalan listrik masyarakat yang terganjal salah satu perusahaan BUMN’’.
Jawabannya enteng saja ‘’Silahkan Bupatinya datang besok pagi, di ruang kerja saya’’. Tanpa surat, tanpa protokoler, tanpa syarat itu ini.

Mereka bertemu, dan hari itu si Bupati membawa pulang tiga hasil pembicaraan yang semuanya positif untuk rakyat. Tidak hanya satu.
Dahlan Iskan. Seorang penulis yang saya selalu meleleh setiap membaca tulisannya. Saya menyebut tulisan-tulisannya, disusun menggunakan ‘kata dan kalimat surga’.

Karena terkadang tidak pernah saya pelajari dalam banyak referensi, ataupun dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan sesaat sebelum dibius total untuk menjalani operasi ganti hati, Dahlan masih menggunakan pikirannya yang jernih, mengingat di sekelilingnya, lalu menuliskannya.

Saya selalu mengagumi setiap penulis, karena menulis adalah cara hati yang paling jujur untuk mengungkapkan kejujuran.

Dahlan Iskan. Seorang pekerja keras, yang sukanya ‘wat wet wut’ dan anti lelet. Bagi orang, dia dikenal sebagai pengusaha ataupun mantan Menteri.

Namun bagi saya, ia tetap seorang jurnalis sejati. Bagi seorang jurnalis, setiap waktu hidupnya selalu ada DEADLINE.

Yakni waktu di mana suka tidak suka, mau tidak mau, hasil kerja redaksi yang DIRASA DAN DIYAKINI TERBAIK UNTUK PUBLIK sudah harus masuk ke ruang cetak dan didistribusikan segera, untuk dinikmati pembaca.

Cara kerja deadline ini pula yang dilakukannya saat dipanggil mengabdi oleh NEGARA, dan tidak pernah mengambil GAJINYA.
Cara kerja deadline ini pula yang membuatnya turun langsung melakukan blusukan, jauh sebelum dikenal sebagai istilah politik seperti sekarang.

Ia dengan segala semangatnya, mampu menutupi keterbatasannya yang harus mengkonsumsi obat sepanjang hidup, untuk menopang dampak dari operasi ganti hati, hanya demi INDONESIA.

Cara kerja seperti ini pula, yang membuatnya menjadi sasak dari sistem peradilan yang abu-abu.

‘’Saya sudah melarang Abah untuk menjadi pejabat Negara, tapi yo ngono. Dia selalu optimis, katanya Indonesia pasti bisa maju dan berubah. Dia selalu meyakini mimpinya,’’

Istrinya sering mengatakan itu pada kami. Hari ini ketakutan istrinya terbukti. Mimpi untuk Negara ini lebih baik, kembali memakan tumbal lagi.

Dahlan Iskan. Ia kemarin tersenyum, untuk kasus hukum yang entah-entah kapan. Tapi ini Negara hukum, maka ia pasti menghormati hukum yang selama ini selalu menjadi mata penanya.

Saya yakin, tidak akan ada satu sel pun di Negara ini, yang akan bisa menahan ‘tulisan-tulisan surganya’ untuk tetap dibaca.

**

‘’Pak, saya akan sekolah lagi, untuk kurun waktu sekitar 3-4 tahun. Saya pamit meninggalkan ruang redaksi’’.

Suatu pagi di sekitaran Monas, perkiraan Juni 2015. Ia dan istrinya selalu olahraga pagi di kawasan itu. Mereka sering jalan kaki menyusuri kota Jakarta, berdua.

Ia tersenyum padaku.’’Jika itu dirasa jadi pilihan terbaik menurut kata hatimu, ya lakukan saja. Lakukan hal terbaik di jalan kebaikan yang bisa kamu lakukan untuk dirimu, keluarga dan Tanah Air.

Kamu tidak perlu khawatir bila tidak bisa menulis di masa cuti. Saya saja masih tetap menulis di masa-masa mau mati,’’.

Dahlan Iskan, bukan malaikat. Ia hanya seorang manusia biasa. Bahkan jika kelak palu hakim memutuskan ia bersalah, saya akan tetap mengikuti suara hati.

Saya sangat membenci koruptor. Namun bila istilah koruptor itu harus disematkan pada seorang nama Dahlan Iskan, maka untuk pertama kali dalam hidup ini, saya mempertaruhkan seluruh kredibilitas profesionalisme saya sebagai seorang jurnalis, untuk tetap mencintai dan menghormati sepenuh hati “koruptor” satu ini.

Karena meski pernah ganti hati, saya sangat yakin sekali, hati seorang Dahlan Iskan, adalah salah satu hati tertulus untuk Negeri ini.

#SaveDahlanIskan
*KETIKA UNIVERSITAS OXFORD DAN CAMBRIDGE PUN ‘MENIRU’ SISTEM PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN?*

_“… pesantren itu selama ini disebut pendidikan tradisional, iku kurang ajar tenan. Terus sing tradisional ki dianggep luweh rendah timbangane sekolah modern. Aku kepengen ngomong, eh tak kandani yo, pesantren itu mulai ditiru wong sak donyo saiki. Besok sak donyo ki pesantren kabeh ”_ – Cak Nun

_” … I realise that in fact, Oxford University its self is a pondok”_ Dr Afifi Al-Akiti (Dosen Studi Islam, Universitas Oxford, Inggris; Alumni Pondok Pesantren Kencong Jember Jawa Timur)

Ketika banyak orang dengan bangga mengatakan ‘saya alumni ITB, ITS, UI, UGM, UB’ atau ‘saya alumni kampus luar negeri’, entah mengapa, meskipun saya alumni salah satu kampus tersebut, saya jauh lebih bangga mengatakan ‘saya alumni pondok pesantren’. Buat saya, pesantrenlah yang telah banyak mendefinisikan bagaimana saya memandang dan menjalani hidup dan kehidupan ini. Buat saya, pesantren bukanlah sekedar sekolah biasa. Buat saya, mondok di pesantren adalah masuk kawah candra dimuka sekolah kehidupan. Dari bilik-bilik sederhana di pesantren itulah, saya temukan nilai-nilai kebajikan hidup yang terus jadi pegangan hidup hingga saat ini. Dari wajah-wajah yang sejuk dipandang dari para kiai itulah, saya temukan inspirasi hidup bak lentera yang tak pernah padam di dalam jiwa. Dari do’a-do’a tulus para ustad, ustadzah, pak yai, dan bu nyai itulah, saya rasakan kebarokahan hidup hingga saat ini.

Di jaman ketika semua ada label harganya. Di jaman ketika rupa dan angka dipuja. Miris rasanya, merenungi sekolah dan universitas tak ubahnya seperti pabrik-pabrik yang memproduksi produk masal. Mencetak manusia-manusia setengah robot yang nyaris kehilangan sisi-sisi kemanusianya, yang nyaris mati sisi-sisi spiritual nya. Manusia-manusia yang dituntut seragam kompetensinya, dan sesuai standard kebutuhan industri-industri pengeruk keuntungan materialistis. Manusia-manusia yang pada akhirnya menuhankan makhluk bernama Uang. Sehingga rela menyerahkan apapun, termasuk kehormatan dan harga dirinya hanya untuk Uang. Argh, sungguh, pendidikan sudah kehilangan ruh pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia. Disitulah, saya merasa orang paling beruntung di dunia, karena pernah mondok di pesantren.

Kebanggan saya akan pesantren makin bertambah, justru ketika saya mengenyam pendidikan di Inggris. Betapa kagetnya saya ketika saya tahu ainul yaqin bahwa ternyata dua kampus terbaik di Inggris, dan terbaik di dunia, Universitas Oxford dan Universitas Cambridge ternyata sistem pendidikanya sama persis dengan sistem pendidikan di pesantren. Memasuki kompleks dua kampus ini tak ubahnya memasuki kompleks pesantren, kebetulan saya pernah berkesempatan nyantri kilat, sekolah musim panas selama seminggu di Universitas Cambridge dan pernah berkunjung di Universitas Oxford. Jangan kira, sampean akan menemukan tulisan besar University of Cambridge atau University of Oxford seperti kampus-kampus di Indonesia. Di komplek dua kampus ini, sampean akan menemukan kumpulan college-college yang tak ubahnya asrama-asrama di pesantren. Di setiap college, terdapat sebuah gereja, lecture hall, dining room, dan asrama yang diketuai seorang profesor yang paling berpengaruh di college tersebut. Yang tak jauh bedanya dengan asrama santri dengan masjid, tempat mengaji, pemondokan, kantin yang diasuh oleh kyai. Tak hanya penampakan fisik, sistem pendidikanya pun tak ubah sistem sorogan dan bandongan di pesantren.

Semula saya pikir saya adalah satu-satunya yang mengklaim kesamaan antara sistem pendidikan pesantren dan sistem pendidikan di OxBridge (Oxford dan Cambridge). Hingga suatu ketika, saya bertemu dengan seorang teman, mahasiswa Malaysia di Universitas Korowin (Universitas Tertua di Dunia), Maroko, pada suatu kesempatan di Den Haag, Belanda. Saya terkejut ketika dia yang alumni pesantren di Kediri, Jawa timur dan sering berkunjung ke Oxford, dimana salah seorang pamanyamengajar islamic studies disana, berkata: ‘ yah sistem pendidikan Oxford dan Cambridge itu ya sama persis dengan sistem pendidikan pesantren’. Rupa-rupanya, tanpa janjian, we shared the same opinion.

Kadang kita memang sering merasa inferior melihat punya orang lain, padahal kita telah memiliki sesuatu yang lebih baik. Kata pepatah Jawa, golek uceng kelangan delek. Kejadian serupa, ketika berada di stasiun kereta Api Rotterdam Central, Belanda, saya tidak sengaja bertemu dengan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang belajar seni musik di salah satu kampus di Rotterdam. Seorang kawan tadi bilang: ” Waduh mas, tahu ndak Gamelan itu diakui dunia sebagai alat musik paling intuitive di dunia, karenanya gamelan adalah ‘mainan’ baru yang sangat menarik bagi para ilmuwan seni musik, ketika mereka sudah mencapai titik jenuh, stagnansi dengan seni musik modern barat.

Argh, ternyata benar seperti yang dibilang Cak Nun, ternyata pesantren adalah sistem pendidikan asli Indonesia yang luar biasa. Sistem pendidikan terbaik yang bahkan Oxford dan Cambridge pun menirunya. Sayang, di negeri sendiri, pesantren malah dimarginalkan. Sama halnya, gamelan yang dianggap tradisional dan terpinggirkan di negeri sendiri. Padahal, di seluruh dunia orang-orang berbondong-bondong belajar musik gamelan. Entahlah. Terkadang saya susah untuk mengerti.

Sudah saatnya kita sadar dan bangga dengan milik kita sendiri, bangga mewarisi kearifan para leluhur kita. Sudah saatnya kita berhenti menjadi bebek yang selalu ikut kemana arus dunia berjalan. Karenanya, untuk adik-adik muda, dan para orang tua yang tak ingin sekedar pemuja rupa dan angka, cukup hanya dua kata: *Ayo Mondok !*

Catatan Pinggir:  ‘Meniru’ (judul) bahasa marketing saya untuk menunjukkan kemiripan. Bisa jadi jangan-jangan Oxford Cambridge meniru sistem pesantren, atau sebaliknya. Bisa jadi sekedar kebetulan. Bisa jadi keduanya meniru sistem yang sama dari model sebelumnya yang lain. Please refer to youtube video below for similar opinion.

Visit : http://santripaku.blogspot.co.id/2016/09/ketika-universitas-oxford-dan-cambridge.html
*Wakaf itu Memang Mengagumkan*

Anda kagum dengan aset Djarum, Sampoerna, dll? Izinkan saya menyampaikan sesuatu.

64 tahun yang lalu, setelah Buya Hamka bekerjasama dengan Yayasan Al-Azhar Indonesia, kini telah memiliki 150 cabang masjid di Indonesia, belum lagi aset sekolah-sekolahnya: sekarang hampir di tiap provinsi ada Sekolah Al-Azhar. Siapa orang kaya di Indonesia, yang asetnya sebanyak dan semanfaat Al-Azhar?

90 tahun yang lalu setelah sang kiai menyerahkan seluruh tanahnya, dirinya, bahkan anaknya yang masih dalam kandungan, diwakafkan untuk agamanya, 90 tahun kemudian GONTOR punya 20 cabang dan 400 pondok alumni tersebar di seantero nusantara bahkan ada yang di luar negeri. Saya tidak tahu berapa ratus triliun asetnya. Bermula dari tiga orang bersaudara. Sebutkan kepada saya, orang Indonesia dari penjajahan hingga sekarang, yang asetnya sebanyak beliau? Baik secara nilai aset maupun secara manfaat.

Muhammadiyah? Jangan ditanya. 104 tahun yang lalu. KH, Ahmad Dahlan pernah keluar rumah, mengumumkan kepada semua orang, siapa saja yang mau membeli seluruh perabotan yang ada di dalam rumahnya, karena beliau kekurangan dana untuk menggaji guru-guru sekolah Muhammadiyah.

Kini, 104 tahun kemudian Muhammadiyah telah memiliki 10.000 lebih sekolah mulai dari PAUD hingga SMU, 170 lebih universitas, 104 rumah sakit, yang pemerintah Indonesia baru punya 48 rumah sakit vertikal, 300 klinik, 10 Fakultas Kedokteran, 700 dokter dikeluarkan setiap tahunnya. Dan hampir 1000 Triliun nilai aset Muhammadiyah yang baru bisa terhitung dalam bentuk barang dan masih banyak lagi yang tidak terhitung. Maaf, saya belum update data terbaru  amal usaha yang dimiliki ormas ini

NU? Ia sangat mengakar dan berbasis pada pesantren. Jangan tanya jumlah, karena yang pasti sudah tidak bisa dihitung lagi, meskipun data di Kemenag ada sekitar 27 ribu pesantren. Tapi, saya yakin lebih dari jumlah itu. Hampir semuanya tumbuh kembang dari wakaf-wakaf umat, mulai dari wakaf tanah 1 m, hingga ratusan hektar.

NU pun sejak satu dasawarsa terakhir ini giat membangun sekolah-sekolah modern, rumah sakit dan perguruan tinggi. Saya yakin dalam 20 tahun mendatang akan tumbuh ratusan perguruan tinggi dan rumah sakit NU di tanah air. Belum lagi jika kita bicara masjid-masjid yang dikelola ormas Islam yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari ini, berapa nilai asetnya? Yang pasti akan fantastis.

Ada satu contoh lagi yang perlu kusebutkan di sini: Pesantren Darunnajah Jakarta, salah satu pondok alumni Gontor yang moncer. Baru-baru ini, dalam rangka miladnya yang ke-54 ia kembali mewakafkan tanah seluas 602 ha atau senilai Rp. 1,6 Triliun. Sebutkan padaku, siapa yang berani melepas asetnya sebesar 1,6 T dan diwakafkan pada umat? Gila? Tidak! Aku bahkan menyebutkan sangat waras! Saat banyak orang kaya menghamburkan triliunan rupiah untuk judi dan politik, sebuah pesantren berusia 54 tahun kembali mewakafkan angka yang fantastis.

Tahun 2015, aset tanah wakaf Darunnajah mencapai 677,5 hektar yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia seperti di Riau, Kalimantan, Bandung, Jakarta, Bogor, Banten, Lampung, Bengkulu,  dan lain-lain. Seperti induknya, Gontor yang tanah wakafnya telah mencapai ribuan hektar, dan juga mengelola unit usaha yang beragam.

Woouw, pesantren seperti perusahaan ya. Asetnya fantastis. Bedanya, pesantren berasal dari wakaf, perusahaan dari modal. Kalau begitu, berarti umat Islam ini umat yang besar dan kaya dong? Betul sekali! Yang luar biasa dengan aset yang fantastis itu, kiai pendiri, pengasuh dan keluarganya tidak memiliki satu sen pun, karena telah diwakafkan. Ada garis tegas pemisahan harta pribadi dengan harta pondok.

Maka, jangan under-estimate, bahwa pesantren tidak bisa apa-apa. Itu penilaian orang yang tidak paham, atau memang tidak mau paham.

Tazakka, 6 tahun yang lalu hanyalah hamparan tanah kosong yang tak berpenghuni. Dulu, ia adalah sebuah kebun cengkeh milik kakekku, hanya 1,6 ha luasnya yang setelah wafatnya pada 1988 nyaris tak terurus dengan baik. Tahun 2009, aku tekadkan untuk mengubahnya menjadi "kebun manusia"; bukan lagi cengkeh yang akan dipetik, tapi manusia-manusia masa depan yang akan dipanen, 10, 20, atau 30 tahun yang akan datang, bahkan, ya Rabb, mungkin satu abad, atau 10 abad seperti Universitas Al-Azhar di Kairo itu, tempatku dan adik-adikku nyantri.

Kini, wakaf Tazakka terus berkembang: tanah telah menjadi hampir 10 ha, masjid, gedung-gedung asrama santri, ruang-ruang kelas, aula pertemuan, dapur umum santri, kamar mandi, lapangan olah raga, perpustakaan, dan lain sebagainya. Ya Rabb, bisakah seperti Al-Azhar di Kairo, atau Gontor di Ponorogo? Ya Rabb. Entah, apakah aku masih hidup menyaksikannya ataukah aku telah tenang di alam kubur. Ya Rabb.

Buya Hamka seandainya masih hidup, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari dan juga Kiai Ahmad Sahal, Kiai Fannanie dan Kiai Imam Zarkasyi, mungkin tidak pusing dengan tax amnesty, karena mereka punya rekening gendut di akhirat dan di dunia, biasa-biasa saja. Sementara yang punya rekening gendut di dunia, pusing di akhiratnya, pusing pula di dunianya.

Seperti yang saya ketahui ada sebuah Hadis Nabi SAW yang intinya: "Ada malaikat Allah yang siap mendoakan orang-orang yang ikhlas di jalan Allah yang tak terhitung jumlahnya."

Itulah jalan kemuliaan para ulama kita terdahulu. Mereka tidak saja mewariskan nilai-nilai kehidupan, tetapi juga mewariskan peradaban. Lalu, pertanyaannya, apa yang sedang dan akan wariskan kepada generasi yang akan datang?

Maka, para ulama kita itu abadi hingga kini. Setidaknya, nama, foto dan silsilahnya masih segar di ingatan seluruh umat dan bangsa ini. Dengan begitu, mereka selalu didoakan. Duh, nikmatnya mereka, tiap saat kuburnya basah dan _jembar_ (lapang) karena kiriman doa-doa umatnya yang terus-menerus tiada henti. Bisakah kita kelak seperti mereka? Ya Rabb!

Itulah jalan wakaf, membentang ke depan tak berujung. Wakaf itu seperti --meminjam istilah Taufik Ismail-- "Sajadah Panjang", tempat kita menghamparkan diri berinvestasi untuk akhirat yang abadi. Harta yang kita wakafkan tidak hilang, tapi tersimpan dalam rekening akhirat. Ibarat sebuah transaksi di bank, para malaikat itulah yang bertugas sebagai teller-tellernya.

Aku hanya bisa berdoa, semoga kita semua ini menjadi batu-batu pondasi untuk sebuah peradaban masa depan yang Islami. Apapun yang telah kita ikhlaskan dalam bentuk wakaf: aset, uang tunai, tenaga, pikiran, akses jaringan, keahlian, manfaat dan lain sebagainya, semoga itu semua menjadi catatan kebaikan dalam timbangan di akhirat kelak.

Aku tidak tahu berapa nama yang harus kusebut dalam terima kasihku atasnama umat, juga dalam doa-doa terbaikku dan doa-doa santri-santriku. Tapi, Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui apa yang dikerjakan hamba-hamba-Nya. Ya Rabb.

Wakaf memang mengagumkan! Sayang, belum banyak yang mengerti dan melakukannya!

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

_Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya._ _(Qs. Ali Imran [3]: 92)_

_"Jika anak Adam mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakannya."_ _(Muttafaqun Alaih)_

Ya Allah, terimalah ibadah dan amal saleh kami. _Ya Rabb, wa-taqabbal du'a._

يا رب. إلهي أنت مقصودي ورضاك مطلوبي.

Anang Rikza Masyhadi
Gambir, 26 Sept 2016
Menakar Kewahabian PKS

Ikhwanul Muslimin , PKS , Tahukah Anda

Oleh: Muhammad Zulifan

(Peneliti, Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam-UI)

Definisi Wahabi
Wahabi (‎ الوهابية) atau Wahhabisme adalah paham keislaman yang disandarkan pada tokoh ulama Muhammad ibn Abdul Wahhab (1703-1787 M) sebagai pencetus gerakan pemurnian aqidah di Arab Saudi. Lewat kerjasamanya dengan Bani Saud yang memerintah negara Arab Saudi tahun 1924, gerakan wahabi berhasil menyeragamkan pemahaman Islam di Jazirah Arab. Madzhab dan gerakan lain yang tidak sefaham dengan ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab kemudian diberangus, termasuk keramahan ajaran sufi yang dianggap menyalahi akidah. Sikap keras gerakan inilah yang kemudian ditakutkan untuk diterapkan di Indonesia yang mempunyai pemahamam Islam yang heterogen.

Sebenarnya tidak ada definisi baku atas pengertian wahabi. Secara umum istilah wahabi digunakan untuk mempersepsi pihak  lain yang tidak asertif terhadap adanya perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Konteks Indonesia, mereka yang tidak menerima adanya unsur tradisi  Islam di Nusantara  seperti tahlilan, selamatan kematian dan perayaan hari besar Islam  menjadi pihak yang disasar isitilah wahabi.

Munculnya Gerakan Islam
Seiring tersebarnya Islam ke penjuru dunia, muncullah tokoh-tokoh ulama  yang berijtihad sesuai kondisi masyarakat di tiap negara. Tidak ada lagi sumber rujukan tunggal sebagaimana era Nabi. Dari sini corak keislaman mulai Nampak, Islam menyatu dengan budaya masyarakat tanpa meninggalkan prinsip-prinsipnya. Muncullah era imam madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafei dan Hambali). Ribuan tahun berlalu, umat Islam di masing-masing wilayah mempraktikkan ajaran Islam sesuai madzhab yang mereka anut.

Memasuki abad modern, muncullah para mujaddid (pembaharu Islam) yang membawa ijtihad gerakan Islam sebagai respon atas keterpurukan umat Islam waktu itu,  terutama sebab penjajahan bangsa Barat. Sederet nama tokoh bermunculan mulai Muhammad bin Ali as-Sanusi (1787- 1859) dengan Gerakan Sanusiyyah di Afrika Utara, Jamaluddin Al Afghani (1839-1897) dengan pan Islamisme-nya yang bertujuan membina kesetiakawanan dan persatuan umat Islam serta menentang kolonialisme dan dominasi Barat., Muhammad Ali Jinnah (1876-1948) di India, Muhammad Abduh (1849 –1905) dan Rasyid Ridha (1865-1935) di Mesir dengan gerakan pendidikan Islamnya.

Dua tokoh terakhir menginspirasi K.H Ahmad Dahlan melalui majalah Al-Manar, hingga sekembalinya dari Mekah, beliau mendirikan gerakan Muhammadiyah pada tahun 1912. Disusul kemudian K.H. Hasyim Asyari dengan mendirikan Nahdhatul Ulama (NU) pada tahun 1926. Dua gerakan ini pada akhirnya menjadi tulang punggung Islam di bumi nusantara lewat kegiatan pendidikan dan sosialnya, tak terkecuali peran kadernya mereka dalam mempertahankan RI di masa perang kemerdekaan.

Selain nama-nama di atas, muncul pembaharu Islam dengan gerakan (harokah) yang jaringannya tersebar ke mancanegara, tak terkecuali Indonesia. Sebut saja nama Hasan Al-Banna yang mendirikan jamah Ikhwanul Muslimin (IM) pada tahun 1928, serta Taqiyyudin An Nabhani dengan gerakan Hizbut Tahrir (HT) pada tahun 1953, disamping gerakan Salafi yang muncul sebagai anak kandung pemikiran Muhammad ibn Abdul Wahhab melalui berbagai organisasi dan lembaga dakwah di Indonesia.

Pada tahun 1980-an, mulailah gerakan tersebut intens masuk ke Indonesia. Salah satu faktor yang menyebabkan gerakan-gerakan itu mudah diterima di kalangan kaum terpelajar perkotaan adalah faktor gagasan dunia Islam, serta faktor internasionalisme Islam, sesuatu yang tidak dimiliki gerakan Islam sebelumnya seperti NU dan Muhammadiyah.

Gerakan dakwah di kampus-kampus di tanah air mulai marak pada tahun 90-an. Muncullah nama Lembaga Dakwah Kampus dan Rohis. Sampai tahun 2000-an, setidaknya ada 3 mainstream gerakan dakwah yang dominan di kampus; Tarbiyah, Salafy dan HTI. Masing-masing gerakan tersebut memunculkan corak keislaman yang unik.

Salah satu faktor daya tarik gerakan Islam di atas adalah  faktor internasionalisme Islam. Secara alamiah, orang akan mencari apa yang tidak ditemukan pada komunitas sebelumnya. Karenanya, sebuah organisasi mudah diinfiltrasi sebuah paham dari luar ketika terdapat celah pemikiran yang kosong. Dibanding Ormas yang bersifat lokal,  gerakan Islam tersebut  dipandang lebih punya cita-cita persatuan internasional yang jelas. Bagi sebagian pemuda muslim, NU dan Muhamadiyah dinilai sudah tidak dapat menjawab tantangan global hingga tak mampu lagi menampung aspirasi mereka.  Faktor ini yang menjadikan  ormas tersebut dirasa kurang responsif pada penyikapan isu-isu dunia Islam semisal masalah Palestina dan penjajahan dunia Islam.

Karena sering mengangkat isu dunia Islam dan terkoneksi dengan jaringan gerakan Islam di manca negara itulah gerkaan Islam disebut sebagai gerakan transnasional oleh Ormas Islam. Istilah transnasional sebenarnya ahistoris, karena istilah tersebut bertentangan dengan karakteristik Islam yang dicontohkan oleh generasi awal Islam hingga era Dinasti Muawiyah, Abbasaiyah dan Turki Ustmani yang  tidak hanya bergerak dalam lingkup sebuah  Negara (nation state). Dahulu wilayah kekhalifahan Islam membentang dari Afrika Utara, Jazirah Arab, Balkan, hingga Asia Tengah yang diperintah dengan satu komando seorang khalifah.

Soal istilah wahabi, gerakan Islam yang muncul belakangan dianggap berfaham  wahabi karena cenderung tidak asertif terhadap budaya nusantara serta mencita-citakan berdirinya negara Islam atau setidaknya tegaknya syariat Islam. Meski hal tersebut tidak sepenuhnya benar adanya.

Akar Ideologi PKS
PKS muncul saat spora kebebasan bertebaran di tanah air pasca reformasi 1998.  Gerakan ini berakar dari gerakan tarbiyah yang terinspirasi oleh gerakan Ikhwanul Muslimin (IM), gerakan Islam terbesar yang didirikan Hasan Al-Banna tahun 1928 di Mesir.

IM (populer dengan sebutan Ikhwan) merupakan gerakan Islam yang paling komplit secara doktrin ideologi. Gerakan ini mempunyai ideologi organisasi yang disebut Amin Rais (1987) sebagai the total conception of ideology. Bagi kaum Tarbiyah, Islam dipandang sebagai sistem serba inklusif yang mencakup realitas komprehensif; rangkaian yang penuh semangat dan tekad mengubah cara hidup yang menyeluruh. Islam sebagai ideologi dipandang meliputi seluruh kegiatan hidup manusia di dunia, sehingga merupakan doktrin, ibadah, tanah air, kewarganegaraan, agama, negara, spriritualitas, aksi, al-Quran dan militer.

Doktrin kelengkapan dakwah (syumuliyah) gerakan Tarbiyah lebih lanjut dapat dirujuk melalui  buku Manhaj Ishlah (Dr. Mursiy Ramadhan, 2014). Disebutkan di dalamnya bahwa Ikhwan menegaskan dakwahnya sebagai  Dakwah Salafiyah (mengikuti generasi salafusshalih), Thariqah sunniyah (kelompok ahlussunnah), hakikah sufiyah (berjiwa sufi), haiah siyasiyah (lembaga politik), jamaah riyadhiyah (klub olaharaga), rabithah ilmiyah tsaqafiyah (lembaga wawasan ilmiah), syarikah iqtishadiyah (persyarikatan ekonomi), fikrah ijtima’iyah (pemikiran sosial).

Dari sini kita dapat lihat bahwa gerakan Tarbiyah berusaha mengumpulkan serpihan puzzle-puzzle kebaikan umat Islam yang terserak selama 14 abad keberadaanya ke dalam sebuah manhaj yang inklusif untuk bersatu membangun peradaban dunia yang lebih adil.

Menariknya, unsur ajaran sufi (tasawuf) diterima Ikhwan sebagai salah satu ijtihad ulama dalam upaya mensucikan jiwa dari penyakit hati dan kesombongan. Berbeda dengan gerakan Salafi dimana sufi dianggap sebagai unsur bidah yang merusak akidah, meskipun sebenarnya solusi sifat keras kaum Salafi ada di ajaran tasawuf.

Seorang muslim yang belajar tasawuf akan dididik untuk senantiasa berhati lembut dan merendah di hadapan muslim lain. Ia senantiasa menyadari dirinya penuh dosa, sehingga memandang orang lain lebih mulia darinya. Lain halnya dengan Salafi, ketika seseorang  masuk ke pengajiannya, maka ia akan didoktrin bahwa manhaj merekalah yang paling lurus sesuai ajaran salafus shalih, sedang jamaah selain mereka bid’ah dan harus diluruskan.  Wajar jika di lapangan mereka cenderung menyalahkan meski hal itu sebenarnya perkara khilafiyah.

Bagi Ikhwan, keragaman jamaah  adalah keragaman yang bersifat  variatif dan spesialisasi, bukan keragaman yang bersifat kontradiktif. Tidaklah ada kelebihan satu jamaah dengan jamaah lainnya, kecuali semuanya saling melengkapi. Ikhwan menegaskan bahwa jamaahnya adalah jamaah ijtihadiyah, sebagaimana jamaah-jamaah Islam lainnya yang mempunyai potensi benar dan salah yang sama dalam bertindak.

Tasawuf menjadi faktor kesamaan Tarbiyah dengan NU. Baik NU maupun Ikhwan keduanya mengakomodir  Aqidah, Fiqih dan Tasawuf dalam manhajnya. Bahkan Hasan Al-Banna sendiri mengikuti tarekat Sufi Hasafiyah di Mesir. Yang membedakan keduanya adalah sanad pemikiran. Tarbiyah mempunyai sanad ke IM Mesir Abad 20, sedangkan NU sanadnya ke Ulama-ulama di Makkah abad 18-19. Bedanya, bila corak keislaman Ikhwan cenderugn ke salaf,  maka corak keislaman NU cenderung ke tasawuf.

Kesamaan Tarbiyah dan Muhammadiyah lebih ke arah gerakan kemasyarakatannya (fikroh ijtimaiyyah) dimana keduanya mempunyai amal usaha sosial baik sekolah, Rumah sakit, lembaga Zakat hingga lembaga keuangan.  Tidak seperti HTI ataupun Salafi yang menjauhi aktivitas sosial kemasyarakatan, Ikhwan (sebagaimana Muhammadiyah) giat menjadi penggerak utama sendi-sendi kehidupan bermasyarakat seperti menjadi pengurus RT, Karang Taruna, hingga jabatan sosial lainnya. Hal inilah yang menjadi sebab adanya gesekan antara keduanya, lebih-lebih dalam ranah politik praktis (demokrasi).

Yang membedakan dengan Muhammadiyah adalah faktor internasionalisme Islam. Faktor internasionalisme inilah yang menajdi titik persamaan Ikhwan dengan Hizbut Tahrir (HT). Meskipun Manhaj Ikhwan tidak secara spesifik merujuk salah satu bentuk negara maupun bentuk khilafah, Ikhwan mencita-citakan bahwa dakwahnya di kemudian hari akan menjadi ustadziatul ’alam (soko guru peradaban dunia).

Unsur pemahaman  salaf menjadi kesamaan Ikhwan dengan kaum Salafi. Bedanya, salafi tidak mempunyai doktrin sosial-politik atau metode mengishlah negara, namun sekedar penekanan untuk senantiasa taat pada ulil amri bagaimanapun keadaanya pemimpin selama ia masih sholat dan apapun bentuk pemerintahannya. Corak ketaatan mutlak pada ulil amri tersebut terpengaruh oleh sejarah negara saudi yang membagi otoritas agama untuk Muhammad ibn Abdul Wahhab (ulama) dan otoritas politik untuk Raja (Bani Saud).

Gerakan Salafi dinilai jumud karena mengadopsi pemahaman generasi salaf  tanpa memisahkan mana yang tsawabit (permanen) dan mana yang mutaghayyirat (dinamis) dalam konteks masyarakt Indonesia. Mereka mempraktekkan secara letter leg apa-apa yang ada di masa salaf hingga ke ranah sosial budaya dan politik sekalipun. Tentu pemahaman slaf tersebut berdsar tafsir dari para ulama Saudi. Tak heran jika pakaian mereka menyalahi budaya Nusantara dengan berpakain ala Arab Saudi; gamis bagi laki-laki dan pakaian kurung panjang serba hitam bagi kaum wanitanya. Ikhwan lebih asertif terhadap budaya lokal. Doktrin sosial   Ikhwan  menjadikan mereka aktif di semua lini masyarkat dan negara, serta terbuka terhadap budaya lokal seperti membiasakan berpakaian batik dan peci dalam aktivitas keseharian para aktivis PKS.

Jelas sudah bahwa dakwah Ikhwan mengadopsi unsur-unsur kebaikan yang ada di semua jamaah dan berusaha menjadi penengah.  Tidak salah jika Ikhwan  mendefinisikan gerakannya  universal, komprehensif, manhajnya integral dan menyeluruh, senantiasa berusaha untuk menjauhi titik-titik khilafiyah, bersifat Wasatiyah (pertengahan), positif terhadap  alam, manusia dan kehidupan, Realistis ketika berinteraksi dengan individu dan masyarakat, mengutamakan akhlak dan kesantunan dalam tujuan-tujuan, misi dan sarana, serta dakwah yang logis dan diterima masyarakat (Manhaj Ishlah: 95-105).

Karena menganut dakwah yang logis inilah, gerakan Ikhwan akan bisa menerima demokrasi dan konsep nation state dan menganggapnya sebagai ijtihad ulama di negara bersangkutan.

Lebih lanjut sifat kemoderatan PKS dalam melihat wacana negara dan sosial diakui sendiri oleh tokoh yang terkenal berseberangan dengan gerakan Islam selama ini,   Ade Armando:

“Harap dicatat, komunitas besar ini tidak dicirikan dengan keinginan mendirikan Negara Islam, seperti Hizbut Tahrir atau NII. Mereka tidak radikal. Mereka pada dasarnya gerakan damai yang berobsesi mempersatukan para pemuda-pemuda muslim terbaik untuk membangun sebuah negara yang lebih Islami…Mereka tidak memusuhi non-muslim. Mereka tidak eksklusif. Mereka cukup terbuka.” (adearmando.wordpress.com)

PKS dan NKRI
Alkisah, ada kuda milik bersama penduduk desa yang terluka, mengamuk tak dapat dikendalikan hingga merusak lahan pertanian.  Orang pertama bersikap ingin membunuh kuda itu segera meski kuda tersebut satu-satunya yang dimiliki warga satu desa.  Orang kedua bersikap acuh tak acuh dengan membiarkan kuda berkeliaran dan merusak tanaman, karena ia senantiasa yakin perangkat desa dan pak Hansip senantiasa sigap menangkap. Sedang orang ketiga ingin menangkap, mengobati, menjinakkan kuda hingga bisa dikendalikan untuk kembali bisa digunakan mengangkut beban warga dan untuk kemaslahatan seluruh penduduk desa, meski ia kadang harus terdepak kaki kuda, terciprat darah dan kotoran.

Orang pertama dalam kisah di atas  mewakili kelompok HTI dalam melihat konteks NKRI, orang kedua adalah Salafi dan ketiga adalah PKS.

Sebagai gerakan yang memilih wasatiyah (pertengahan) dalam manhajnya, gerakan tarbiyah senantiasa melihat konteks UU yang berlaku di sebuah Negara (Manhaj Ishlah: 104).  Maka jika dilihat, gerakan tarbiyah adalah gerakan yang paling asertif menyikapi kondisi tiap negara. Mereka tidak akan teriak tegakkan syariat atau revolusi sekarang juga, karena hal tersebut bertengtangan dengan manhaj dakwahnya yang mensyaratkan nilai logis dan diterima masyarakat. Dalam konteks ini, amat logis jika di daerah konflik seperti Palestina dan Suriah mereka akan mengangkat senjata (sebagaimana RI saat era kemerdekaan). Namun di negara-negara damai seperti Indonesia, meraka akan berjuang berdasarkan UU yang berlaku.  Hal ini berbeda dengan HTI yang di tiap negara slogannya sudah satu: tegakkan khilafah. Sedang Salafi akan senantiasa menyerukan pemurnian akidah sebagai satu-satunya solusi umat.

Pandangan dakwah kaum Tarbiyah ini lebih soft karena menerima pendapat para pakar di bidang dan profesional dalam mengkaji sebuah isu nasional. Saat menelaah isu BBM atau masalah ekonomi misalnya, PKS akan mengundang para pfofesor di bidangnya untuk berbicara dan merumuskan solusi. Berbeda dengan HTI yang apapun permasalahan umat ini, bagi mereka hanya bisa diobati dengan satu obat mujarab; tegaknya Khilafah. Mereka akan menolak solusi selain khilafah meski datang dari seorang profesor universitas nomor wahid sekalipun. Atau juga misalnya gerakan salafi yang menyerahkan semua urusan kenegaraan ke pemerintah, seburuk apapun kondisi birokrasinya. Bagi mereka, yang terpenting akidah masyarakat lurus. Ketika aqidah sudah lurus maka kehidupan masyarakat akan serasi dengan sendirinya.

Sebagaimana  para pemikir politik Islam pada umumnya, Ikhwan tidak memberikan preferensi tententu apakah sebuah negara harus berbentuk khilafah, republik atau kerajaan. Asalkan nilai-nilai esensi ajaran Islam dapat direalisasikan, apapun bentuk pemerintahan dapat diterima secara syariah. Namun tetap adanya institusi negara yang pro Islam menjadi penekanan mereka. Sebagaimana disinggung Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa nilai-nilai dan tata sosial Islam tidak akan terealisasi secara ideal tanpa negara.

Madzhab Kelima
Sebutan wahabi sebenarnya juga tidak tepat dialamatkan ke PKS, karena manhajnya begitu asertif terhadap madzhab lain. Dakwahnya senantiasa berusaha untuk menjauhi titik-titik khilafiyah dan  bersifat Wasatiyah (pertengahan).   Bahkan ada yang menyebut sikap keislaman PKS sebagai madzhab baru yang berusaha menyatukan perbedaan 4 madzhab yang ada, dimana ia sangat luwes akan keragaman madzhab fikih. Saat sholat di belakang imam yang membaca qunut, maka orang tarbiyah akan mengikuti imam dengan menengadahkan tangan seraya membaca qunut. Jika bersama imam yang tidak qunut pun mereka tidak keberatan untuk mengikuti. Bandingkan dengan orang Muhamamdiyah yang saat sholat dibelakang imam  yang baca qunut,  ia tetap istiqomah untuk tidak membaca qunut.

Sifat kemoderatan Fikih PKS terlihat juga dalam  sholat tarawih.  Jika NU dan Muhhammadiyah masih ngotot soal jumlah rakaat tarawih, maka kaum tarbiyah menerima keduanya dan melaksanakan sholat sesuai kebiasaan masjid di lingkungannya. Sikap yang jauh dari fanatisme madzhab sesuai prinsip dakwahnya yakni dari permasalahan-permasalahan furu’ dan parsial menuju permasalahan mendasar dan universal, dari perpecahan dan perseteruan menuju persatuan dan perpaduan (Manhaj Ishlah: 106).

Lebih lanjut saat menjadi pengurus masjid, biasanya orang PKS lebih asertif terhadap berbagai kegiatan masyarakat lintas jamaah seperti acara tahlilan atau peringatan Hari Besar agama. Hal yang sama tidak mungkin terjadi saat pengurus masjidnya orang salafi. Semua kegiatan akan dilarang dengan dalil acara dan peringatan tersebut tidak diajarkan Nabi dan merupakan perkara bid’ah. Dakwah Tarbiyah menolak mengkafirkan manusia dan berlaku ekstrem kepada mereka dengan pengingkaran dan ancaman. Namun berupaya menjadi qudwah, berbuat baik kepada mereka dan melakukan perbaikan secara bertahap, berusaha menyatukan hati dan persatuan umat serta tidak menyulut kebencian diantara mereka. (Manhaj Ishlah:188)

Jika Muhammadiyah senantiasa bersikukuh atas metode hisab wujudul hilalnya meski bertentangan dengan pemerintah dalam menentukan hari raya, maka tidak bagi kaum Tarbiyah. Mereka akan dengan setia  menunggu pengumumam resmi dari pemerintah sebelum melaksanakan takbir dan berhari raya. Mereka memilih berlebaran bersama pemerintah dan mayoritas kaum muslimin. Hal ini sebagaimana doktrin gerakan tarbiyah dimana Ikhwan  menghormati aspirasi umat dengan sebenarnya, membiarkan ijtihad sesuai tuntutan zamannya, menjunjung tinggi keinginan umat walaupun berbeda dengan pandangan ikhwan, maka ikhwan memilih mengalah dan berjalan beriringan bersama umat (Manhaj Ishlah: 200).

Seiring penerimaannya dengan UU yang berlaku di masyarakat sebagaimana digariskan oleh manhajnya, kaum Tarbiyah memandang bahwa pembentukan pemerintahan Islam tidak bisa dilakukan dengan aksi kekerasan. Karenanya, Ikhwan menolak manhaj kudeta dan revolusi serta model manhaj memberontak terhadap pemerintah. Cara revolusi dekonstruksi dan meledaknya titik-titik tekanan, tersulutnya permusuhan dan pemberontakan antar kelompok hanya akan melumpuhkan potensi umat. Pada gilirannya yang akan menggulingkan pemerintah dan menguasainya orang yang punya kecederungan dan kekuatan paling besar dalam memanfaatkan situasi kacau dan persaingan (Manhaj Ishlah: 183).

Ikhwan juga menolak kelompok yang hanya melihat kekuatan militer sebagai obsesi yang paling besar untuk melenyapkan kebathilan, sebagaimana dianut HTI yang percaya bahwa thalabun nusroh yakni merebut kekusasaan dengan jalan revolusi sebagai jalan menegakkan cita-cita mereka; khilafah. Perubahan yang diinginkan Ikhwan adalah perubahan yang alami, gradual, integral tidak parsial serta mematuhi undang-undang-undang di masyarakat.  Karenanya Ikhwan menolak aktivitas politik praktis dengan penuh ambisi dan melupakan sisi-sisi yang lain yang jauh lebih penting yakni memulai dengan pembentukan, tarbiyah serta aktivitas pemikiran dan sosial. Bagi Gerakan Tarbiyah, cita-cita menegakkan nilai-nilai Islam dimulai dengan memperbaiki individu, kemudian perbaikan keluarga, dari keluarga akan terbentuk masyarakat yang Islami, hingga ke ranah negara dan akhirnya terbentuk tatanan dunia yang lebih adil (Manhaj Ishlah: 43). Dari sinilah nama Tarbiyah (pendidikan) muncul, dimana mereka memfokuskan pembentukan individu yang paripurna melalui serangkaian pembinaan terarah dan terstruktur secara rapi dan rigid.

Ikhwan juga menerima demokrasi sebagai sebuah ijtihad manusia dalam mengatur negara, meski dengan berbagai catatan. Tokoh Ikhwan terkemuka  Dr. Yusuf Qaradhawi (1997) berpendapat bahwa  substansi demokrasi  sejalan dengan Islam karena Islam dan demokrasi sama-sama menolak diktatorisme. Dalam Islam terdapat konsep penyelenggaraan kekuasaan dengan prinsip amanah, musawah (persamaan), ‘adalah, syuro, ijma’, dan baiat. Prinsip demokrasi dalam al-Quran begitu kuat. Yang diperlukan adalah reformulasi dan reinterpretasi.

Argumen yang menunjukkan kesesuaian Islam dan demokrasi adalah penolakan Islam terhadap kediktatoran Namrudz dan Firaun (QS. al-Baqarah:258 dan ad-Dukhan:31); pemilu sebagai kesaksian rakyat (al-Baqarah 282-283), pengecaman terhadap rakyat yang hanya membebek saja (QS. Al-Qashash: 8, 24), negara Islam menjunjung tinggi toleransi dan pluralitas sebagai sunnatullah (QS. al-Baqarah 256, Huud:118 Yunus: 99).

Penutup
Menelisik sikap PKS langsung dari manhaj gerakannya, kita akan dapati bahwa sebenarnya gerakan tarbiyah tersebut  merupakan gerakan Islam yang menggariskan prinsip moderat (washatiyah), asertif terhadap ijtihad dan perbedaan dari kelompok lain, serta menghormati UU di Negara setempat.  Adapun cap radikal yang disematkan pada gerakan ini oleh beberapa pihak  lebih disebabkan karena kondisi  sulit penjajahan di beberapa negara sebagaimana  dihadapi rakyat Palestina atau negara lain yang sedang berkonflik seperti Suriah. PKS dan gerakan sejenis di negara-negara lain di dunia sebagian besarnya memilih jalan damai mengishlah negara melalui  demokrasi seperti AKP di Turki,  Partai En-Nahda di Tunisia serta FJP di Mesir.

Moderasi manhaj PKS ini layak menjadi solusi model keislaman masyarakat yang toleran terhadap perbedaan, semangatnya untuk ishlah (juru damai) segala perbedaan di antara umat Islam sangatlah mulia.  Sayangnya, masyarakat Indonesia kini masih cenderung mempersepsi PKS sebagai kaum puritan yang kaku, serta berperilaku politik yang tidak berbeda dengan partai pada umumnya. Tak sedikit kader  secara liar bersikap keras di medsos dengan manuver pribadi yang tidak terkontrol dalam menyerang  pihak lain yang berseberangan  termasuk pemerintah. Bahkan Presiden PKS sampai memberikan  arahan bertajuk kecerdasan literasi dan perintah bersikap santun di Medsos untuk para kadernya.

Kini tinggal satu pertanyaan, mengapa Manhaj Ishlah kaum Tarbiyah yang sebenarnya  moderat dan toleran pada kelompok lain nyatanya tidak berkorelasi positif dengan persepsi masyarakat pada PKS? Apa yang salah? Penulis tidak akan menjawabnya. Biarlah hal tersebut menjadi PR presiden PKS beserta  jajarannya.

Rujukan:

Ramadhan, Dr. Muhammad Abdurrahman Mursy. Manhaj Ishlah, terjemahan Manhaj Ishlah wa Al Taghyir ‘Inda Jama’ati Ikhwan Al Muslimin. Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 2014.

- See more at: http://muslimina.blogspot.co.id/2016/09/menakar-kewahabian-pks-oleh-muhammad.html?m=1#sthash.xEUtYIFx.dpuf
Kalau berani tidak perlu takut-takut. Bila takut jangan merasa berani. Bertekad besar, berjiwa satria.
Tetap baik, benar, tepat, dan bijaksana, maka kau dan aku berani menapaki hidup. Menerapkan apa pun penuh kasih tiada lagi pamrih. Nasihat luhurnya : "Tatag, Teteg, Titis, mulo Tutug Maskumambange." Salam Renungan Zaman Buanergis Muryono 2016 0913 09:02